Selasa, 05 Agustus 2008

TEMU TEMAN DAN SILATURAHMI INDONESIA

-sebuah catatan penyunting dan pengantar buku-

R. Timur Budi Raja

I.

Ketika Puji Lestaluhu -kawan saya-, seorang aktivis teater kampus yang kebetulan menjadi salah satu dari kepanitiaan Temu Teater Mahasiswa Nusantara 2008 ini meminta saya untuk menjadi kurator sajak-sajak peserta yang rencananya hendak dibukukan, saya terkejut. “Ya ampun, rasanya saya belum cukup memiliki keberanian!” seru saya, sontak dan ringan. Tapi, Puji, kawan saya itu segera memberi isyarat agar saya diam, sembari menyerahkan setumpuk teks. “Kami tunggu kabar, dan pastikan tiap komunitas dapat ruang satu,” ucapnya. Wah, saya memilih mengiyakan dan tersenyum akhirnya.

Terus terang, awalnya saya sangat kelimpungan. Saya tiba-tiba menjadi seorang penakut yang berhati-hati. Dan sekali lagi, ya ampun, hingga menjelang waktu yang ditentukan itu tiba, saya masih juga rajin-rajin bertengkar dengan pikiran sendiri lantaran perkara ini.

Sebenarnya apa yang saya takutkan? Kerja kurasi yang sedang saya pikirkan ini-kah, atau keinginan pihak panitia yang memberi catatan kaki agar tiap komunitas peserta dapat dipilih –atau lebih tepatnya diambil satu- dari sekian sajaknya?

Kedua pertanyaan yang saya rumuskan itu, tragisnya benar. Setidaknya, sebab catatan kaki pihak panitia itulah, kemudian alasan-alasan ketakutan saya menjadi lebih jelas. Bagaimana mungkin kerja seorang kurator dimasuki wilayah keinginan panitia. Sebenarnya bagaimana konsepsi awal rencana penerbitan buku kumpulan Temu Teman ini? Demi distribusi keadilan –meminjam istilah panitia-, kenapa perlu seorang kurator? Lalu, apakah seorang yang ditunjuk sebagai kurator digiring menjadi tidak profesional dan timpang dalam kerja kurasinya, bahkan diberi ruang bunuh diri?

Bagaimana tidak. Pertama; ketika memandang kenyataan teks yang ada, meski tidak seluruhnya, tapi yang lebih dominan sederhana seperti ini, saya khawatir terlalu tergesa-gesa bila harus menentukan standarisasi ideal untuk memberi nama tumpukan di tangan saya ini sebagai teks yang ditulis dengan bobot sastra dan atau menyebutnya sajak. Kedua; persoalan yang berkembang kemudian karena sebayang hantu pertanyaan rentetan, adalah ukuran apa yang harus saya gunakan untuk membaca, membaca ulang dan seterusnya memilih teks-teks itu sebagai isi buku, yang nanti akan dinyatakan panitia sebagai sebuah kumpulan atau antologi sajak?

Saya bergidik. Buku yang sedang dibayangkan bersama itu, terlepas dari bagaimana pun kemasannya, atau pun mau dipandang sebagai apa saja, tentu akan dibawa oleh para peserta Temu Teman se-Nusantara yang pulang ke daerahnya masing-masing.

Mungkin sebagai benda kenangan; memorabilia dengan ikatan sejarah, peristiwa dan momentumnya. Mungkin untuk pendokumentasian, mungkin untuk pembacaan, mungkin demi motivasi kreatif, mungkin untuk semacam album silaturahmi, mungkin catatan perjalanan atau kekenesan di usia muda, atau cuma untuk dibawa pulang.

Akhirnya, saya bergegas menghubungi dan mengajak pihak panitia untuk mendiskusikannya ulang. Singkat cerita, lewat percakapan yang cukup panjang, akhirnya kami menemukan jalan keluar, yang mungkin lebih arif. Kedudukan saya bergeser sebagai penyunting. Saya bahagia, karena saya tak lagi duduk semirip paus dan hakim, atau pun sang penuding.

II.

Seorang penyair, yang sumpah mati saya lupa namanya, pernah mengatakan bahwa perkembangan penulisan sajak saat ini sudah sampai pada tataran niat. Artinya, sesuatu yang ditulis oleh seseorang –baik dia penyair atau bukan- dan diniatkan sebagai sajak, maka, ya itulah sajak.

Ini subyektif memang, bahkan, debatebel. Bagi seorang penyair yang sudah tiba atau memiliki teknik menulis, tentu pemahaman itu dapat diterima atau lewat begitu saja. Persoalannya, bila pemahaman tersebut ditangkap oleh seseorang, atau siapa pun yang baru memulai masuk ke dalam dunia penulisan kreatif, dalam hal ini sajak, barang tentu kemudian, aktivitas menulis dipandang semacam kegiatan yang mudah dan tak perlu serius belajar.

Wah, gampang benar menulis sajak. Seseorang yang tanpa dasar pengetahuan bahasa, tanpa memiliki literatur tentang sastra dan karya, apakah mungkin bisa menulis sajak? Apakah aktivitas menulis bisa dipisahkan dari aktivitas membaca? Apa yang akan ditulis, kalau tak pandai membaca? Aih, rasanya ini tak perlu diperpanjang!

Sekarang, bagaimana dengan setumpuk teks yang ada ini? Apa yang perlu kita telisik dari sebuah kehadiran? Apakah teks-teks ini telah merepresentasikan temu teman, dalam pengertian yang sesungguhnya? Silaturahmi nusantara; semacam kegelisahan pertemuan, kerinduan untuk membikin api, perhelatan akbar, sidang besar dan orang-orang muda yang dengan tangan kiri terkepal tengah mereka-reka Indonesia kembali, karena dibaca tak lagi menjanjikan apa-apa.

Sajak-sajak yang telah saya pilih dalam buku ini, dengan seluruh keterbatasannya, yang pasti telah berbicara dengan bahasa mereka. Jujur, lugas sebagai bahasa anak-anak muda yang tengah mencari arti kehadirannya sendiri. Sederhana dan dipenuhi oleh spirit silaturahmi Indonesia. Lebih tepatnya, Nusantara!

Dalam gelora kreatif, ternyata mereka benar-benar bertemu dan belajar. Maka, selamat membaca dan menelisik kehadiran ini.

. Surabaya, 28 Juli 2008

Penyunting

R. Timur Budi Raja


TEMU TEMAN DAN SILATURAHMI INDONESIA

-Sebuah Catatan Penyunting & Pengantar Buku Kumpulan Sajak-

Selasa, 17 Juni 2008

Gambar Cinta dari Atjeh

R. Timur Budi Raja


4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.

Pengubur 1
“Seperti kami, 50 tahun usianya dihidupi penderitaan, darah, kematian, orang-orang yang diburu dan dibantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang-orang yang diburu itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi gerimis.

Pengubur 2
(meletakkan cangkul)
Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adalah pertikaian yang dimulai dari kejahatan janji. Tentara pusat datang dan mencoba membungkam teriakan kami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka tidak memperbolehkan kami berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk tidak hidup bersama mereka. Ya, bersama mereka! Negara telah membuat mereka tak mengenal kami sebagai saudara yang harus memilih jalan lain.

Pengubur 3
Kemudian mereka menculik seluruh kaum laki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan suaminya, anak-anak gadis diperkosa, dan laki-laki yang lain harus pergi ke hutan-hutan.

Pengubur 4
Sudahlah! Tak baik kita mengingatnya lagi. Jangan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini, menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih baik.

Pengubur 2
Tidak! Aku mulai mempertanyakan, kenapa harus selalu tanah ini? Kenapa penderitaan selalu datang dan bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku jadi sangsi!

Pengubur 1
Tutup mulutmu! Jangan biarkan pikiranmu kotor, akankah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan keadilan Tuhan.

Pengubur 3
Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, ditanah ini? Bertahun-tahun kita tenggelam dalam penderitaan ini.

Pengubur 4
Kau gila. Kalian berdua gila!

Pengubur 2 & 3
Ya, kami memang gila! Kami mulai sangsi, kami mulai tidak percaya terhadap apa-apa dan siapapun. Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghianati kepercayaan kami

Pengubur 1
Cukup! Musibah ini telah terjadi, lebih baik kita kuburkan mayat-mayat saudara kita ini. Apakah akan kita biarkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?

4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.


Bangkalan-Sumenep, 2004

TENTANG KEMERDEKAAN

R. Timur Budi Raja

Masih ingat dengan lirik lagu ini:
"Tujuh belas Agustus tahun empat lima. Itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia,…Merdeka!….."
Dan benar. Indonesia memang telah mengajukan kedaulatannya pada hari itu, tanggal 17 Agustus 1945 yang silam kepada dunia. Seluruh rakyat Indonesia menangis. Bukan karena sedih, tapi lantaran keharuan yang dalam mengenang perjalanan sakit dan perihnya luka beratus tahun di bawah kaki penindasan bangsa asing -para penjajah-, yang datang dari belahan bumi yang lain.
Tangis keharuan yang jatuh pada saat itu, tentu saja adalah tangis keharuan yang wajar. Yang tidak mengada-ada dan bukan atas nama semacam romantisme atau kecengengan-kecengengan yang dangkal terhadap sejarah. Airmata tersebut barangkali memang musti jatuh, dan mungkin untuk sekali itu saja.
Perasaan kepemilikan akan persoalan yang sama -pada awalnya hanya bicara tentang kedaerahan, yang pada akhirnya menjadi bersifat nasional- itu, yakni ketertindasan, menyebabkan mereka mengangkat senjata untuk melawan.
Latar belakang kesamaan sejarah, nasib, wilayah, itikad dan tujuan yang pasti telah mempertemukan mereka -para pejuang, dan orang-orang yang berdiri di depan sekali mengawal bangsa dan negeri ini-. Baik di tengah-tengah medan peperangan atau pun juga pada saat berpikir keras untuk menentukan keputusan-keputusan mendesak, di antara situasi dan kondisi yang serba darurat dan genting di dalam kerangka persiapan kemerdekaan.
Tema persatuan adalah kunci dari adanya komitmen untuk menyatakan diri bersama-sama sebagai suatu bangsa, lalu membentuk dan membangun sebuah negara.
Pengalaman pada waktu itu telah memberikan sebingkai cermin dan mengajarkan, bahwa gerakan perlawanan yang bersifat kedaerahan terhadap tirani apa pun atau dinding kekuasaan suatu rezim tertentu, terbukti cuma menghasilkan kegagalan demi kegagalan semata. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kesadaran baru dan kesepakatan bersama dalam memberi arti terhadap rasa kebersamaan, persatuan, ideologi dan gerakan-gerakan perlawanan yang dilakukan.
Persatuan? Kebersamaan? Ya, tentu saja. Karena hal-hal tersebut jelas-jelas memberi kekuatan bagi keberlangsungan hidup dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Baiklah, itu telah berlalu. Bisa dianggap masih dekat atau, bahkan jauh sekali tertinggal di belakang. Kita dapat melipatnya, sambil sedikit ketawa dan berujar " Ah, itu sudah menjadi sejarah! ".
Di bulan Agustus tahun ini kita -bangsa Indonesia-, kembali merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-63. Lampu-lampu merkuri dipasang dimana-mana. Kembang api warna-warni dinyalakan, membuat malam menjadi meriah. Spanduk-spanduk bertuliskan semangat kemerdekaan dan selamat ulang tahun ke-63 dipajang di sepanjang jalan-jalan protokol. Bendera merah putih dikibarkan di depan rumah, di kantor-kantor dan seluruh instansi pemerintah yang ada di kota, di desa, di dusun dan di kampung-kampung. Lagu-lagu dan mars kebangsaan terdengar riuh di setiap upacara yang dilaksanakan. Beragam aktivitas kegiatan diadakan. Aneka perlombaan dan adu kreativitas digelar. Mulai dari perlombaan yang menggunakan kekuatan fisik atau otot seperti balap karung, pacuan kuda, panjat pinang, makan kerupuk, sampai pada perlombaan yang menggunakan kemampuan pikiran.
Di setiap stasiun TV dan radio disiarkan, bagaimana presiden, wakil, seluruh menteri dan stafnya tiba-tiba menitikkan airmata pada waktu upacara sedang berlangsung.
Beberapa orang yang ikut memiliki andil pada masa perjuangan pra kemerdekaan, yakni menghalau penjajah di setiap medan peperangan yang terjadi sampai pada ketika proklamasi diperdengarkan kepada dunia, tidak mungkin melupakan begitu saja heroikme suasana pada waktu itu. Keterikatan bathin mereka dengan suasana yang mereka kenal dengan baik itu, tentu saja akan membuat mereka bergetar kembali mengingatnya. Kalau pun mereka menangis, yang jelas tidak untuk dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang atau generasi yang bukan produk dari jaman itu hanya bisa mendengarkan "ceritanya" lewat orang tua, buku-buku bacaan, lagu-lagu perjuangan, mars kebangsaan dan mata pelajaran sejarah yang diajarkan di bangku-bangku pendidikan dasar formal yang justeru terkadang belum tentu sepenuhnya benar. Sebagian orang yang saya maksudkan di sini adalah angkatan generasi yang lahir pada jaman dimana "perang melawan ekspansi orang-orang asing" telah lewat.
Perang tersebut memang telah berlalu. Tapi perang-perang baru dalam berbagai bentuk sedang dialami bangsa kita. Perang dalam berbagai lini dan konteks aktivitas sosial sesungguhnya tengah dimulai.
Beberapa puluh tahun saja setelah peristiwa proklamasi itu, tiba- tiba kita menjadi terlalu congkak menatap keberadaan diri kita sendiri. Pada saat angkuh berdiri, kita kerap lupa bahwa bumi tempat kita berpijak sesungguhnya telah longsor dan terancam. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan kita atau bangsa ini? Bahwa kita semakin jauh dari nilai-nilai dan tradisi, bahwa kita tidak pernah dekat dan mengenal akar budaya kita berasal. Stempel-stempel dan istilah-istilah seperti masyarakat baru, masyarakat modern, negara berkembang, masyarakat industri, era globalisasi dll. yang ditiupkan oleh "jaman baru" yang kita sebut ini telah cukup lama membuat kita terlalu penat dan terasing.
Belum lagi persoalan-persoalan umum menyangkut realitas dan perilaku kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyat untuk melegitimasi kekuasaan dengan berbagai alasan, ketidakadilan ekonomi, pencaplokan dan penggusuran tanah, kesenjangan pendidikan, perilaku korup dan lain-lain masih saja selalu kita rasakan dan dengar setiap waktu di negeri ini.
Diam-diam saya teringat seorang lelaki tua bekas pejuang kemerdekaan bernama Romo, yang suka meledak-ledak ketika berbicara dan bercerita tentang jamannya. Ia yang suka berpakaian seperti halnya pakaian Pak Dirman itu, hanya memiliki kebanggaan-kebanggaan yang sederhana. Romo, lelaki yang sering memakai sepeda onthel berkeliling kota itu, suka menundukkan kepala dan menangis di bawah tiang bendera. Entah mengapa.
Atau kepada Tedjo dan Sarjikun. Kawan-kawan sepermainan saya dulu di kampung, yang setamat dari bangku sekolah dasar harus kembali ke sawah karena tidak mampu meneruskan sekolah. Beberapa waktu yang lalu, mereka sempat menjadi pedagang kaki lima di Surabaya. Tapi tidak bertahan lama. Menurut Tedjo, barang-barang dagangan serta rombong kaki lima miliknya dan teman-teman seprofesinya, dihancurkan begitu saja oleh Satpol PP dan dibawa entah kemana.
Bahkan, kata Tedjo lagi, beberapa mahasiswa yang menggelar aksi demo menentang tindakan "kejahatan kolektif" semena-mena antara Pemkot dan Pengusaha setempat itu, dipukuli oleh aparat keamanan. Saya hanya dapat memandang Tedjo yang sadar terhadap hak-haknya yang sangat sederhana, sebagai bagian dari bangsa ini.
Konon negara ini memiliki undang-undang, dimana salah satu pasalnya menyatakan, bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap penduduknya untuk memperoleh penghidupan yang layak.


Bjn-Sby, 16-17 Agustus 2003

Makassar Palace

-rindu-
dark dragged down, sist
drizzle comes to fall with
as if it jail my tonging
me….gazing still
me helpless
turn down the lonely
this time
the lonely in me is you

2000

Senin, 16 Juni 2008

TENTANG ANAS, KAWAN-KAWAN SAYA,

GARCIA LORCA, ALEXANDROS PANAGOULIS
DAN
KESEDIHAN ITU,…SUARA-SUARA ITU

R. Timur Budi Raja


“Aku mengingat kesedihan bertiup di udara terbuka”
(Federico Garcia Lorca)

“Sifat sebagian besar para penyair itu rakus. Tamak. Dengan gaya baca puisi yang jelek mereka tetap berbesar hati membawakan puisi-puisinya di panggung atau di forum-forum. Mengapa mereka tidak mempercayakan kepada para deklamator? Mengapa mereka tidak memberi ruang kepada deklamator? Atau, apakah akan demikian selamanya, bahwa deklamator itu hanya hidup dari lomba ke lomba?“ demikian Anas –seorang pembaca puisi-, berbicara berapi-api tapi cukup sedih.

Anas kawan saya ini saya kenal kurang lebih dua tahun yang lalu di Taman Ismail Marzuki (TIM), ketika saya diundang membacakan puisi dalam rangka Pembacaan Puisi Para Nominator Lomba Cipta Puisi Anti Kekerasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award yang diselenggarakan oleh Yayasan KSI di Jakarta. Konon, ia lama di TIM, bertemu dengan banyak seniman dan katanya lagi, sempat bermain film.

“Ah, jangan-jangan ini hanya kecemburuan Anas saja terhadap para penyair karena merasa dunianya, dunia baca puisi terganggu,“ celetuk Ale’ tiba-tiba.

“Tampaknya kamu melupakan satu hal, Kawan Anas. Bahwa tanpa adanya penyair, apalah arti seorang deklamator? Bukankah puisi diciptakan oleh penyair?“ Guruh –seorang kawan yang lain- seakan mengingatkan.

“Bukanlah persoalan kupikir, apakah penyair suka membacakan puisi-puisinya atau tidak, meski cara dia membaca jelek. Mengapa? Ya, puisi lahir memang untuk dibaca. Dan yang kedua, bahwa hal tersebut adalah bagian dari otoritas penyair. Jadi saya pikir hal yang kau angkat sebagai persoalan, sungguh terkesan mengada-ada,“ tandas Guruh lagi.

“Jangan minta legitimasi eksistensi deklamator terhadap para penyair! Buat sajalah kegiatan sendiri, bikin forum sendiri dan jangan sakit hati! Baca puisi siapa saja di situ. Silakan diedel-edel, dibongkar –bongkar, dibaca penuh sambil jungkir-balik atau tidak,…Terserah! Mau diteaterkan, dideklamasikan, dimusikkan, ditarikan atau pun disenirupakan, buatlah itu urusanmu!“ Dedek pun ikut masuk ke dalam perbincangan ini, seperti melompat begitu saja.

“Kau bisa saja beralasan, bahwa dunia teks atau naskah sangatlah memiliki perbedaan dengan dunia panggung atau pertunjukan. Artinya, bila ada yang bertanya kepadamu dengan nada marah: Mengapa begitu?… Jawab saja, bahwa tugas seorang penyair atau penulis telah selesai, ketika naskah yang ditulisnya selesai. Dan dunia panggung adalah dimensi yang lain, kerja yang lain, atau dan…bisa saja adalah orang yang lain pula,“ sambung Dedek.

“Kawan-kawan! Lepas dari kecemburuan seorang Anas, yang jelas ada hal menarik di sini untuk direnungkan kembali bersama-sama. Lebih jauh lagi, aku menangkap barangkali memang sudah ada pergeseran makna tentang penyair secara istilah atau definisi. Kalau dulu atau kemarin peran penyair adalah sebagai seorang penulis,..maksudku pencipta dan sekaligus pula membacakannya. Sedangkan pemahaman dan pemaknaan tentang seorang penyair yang dibawa Anas, sebagai seorang deklamator, hanya cukup sebagai seorang penulis saja. Aku tidak tahu, apakah dunia kepenyairan mengalami perkembangan atau sebaliknya karena adanya hal ini. Yang jelas ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut,…” Enes yang sejak tadi jadi pendengar yang baik, akhirnya turut pula turun menengahi.

Saya diam saja. Saya pun adalah seorang pendengar yang baik. Meski disisi yang lain, saya sungguh ingin melontarkan pendapat yang berisi ketidaksepakatan saya terhadap Anas.

Diam-diam, saat itu ada banyak nama bergetar di benak saya. Mereka datang seperti ingin menjelaskan diri mengapa mereka menulis sajak dan bagaimana mereka memahami penderitaan. Saya mengenang Lorca yang menghadapi kematian dengan begitu tenang pada detik-detik terakhir, dimana ia sebentar kemudian akan ditembak oleh beberapa tentara di Spanyol -di negerinya-, karena dianggap berbahaya oleh penguasa pada jamannya.

Dan seandainya Anas tahu, bahwa jauh di ujung ingatan dari yang bernama masa lalu, terdapatlah seorang penyair bernama Alexandros Panagoulis.

…Yunani kemudian bebas. Tapi dalam sejarahnya lalu datang sejumlah perwira yang kemudian terkenal dengan sebutan “ para kolonel “. Mereka mengambil alih kekuasaan. Yunani jadi kediktatoran, kali ini oleh anak kandungnya sendiri. Dan di negeri tempat lahirnya demokrasi itu demokrasi pun dianggap asing, hendak dihapus, seperti juga mereka mencoba menghapus kata oxi di dataran Peloponnesus…..

…,ada pula seorang penyair Yunani yang disiksa “ para kolonel “ dan menulis puisi dengan darah…..

…Oriana Fallaci telah bertemu dengan Alexandros Panagoulis. Dialah penyair yang ditahan, disiksa, dan menulis sajak di penjara dengan tetesan darahnya. Dialah penyair yang digebuk, disetrum, digantung, dikerangkeng, dalam sel paling sempit, dan dalam usia muda keluar ke bumi dengan wajah seorang tua. “ Hari itu ia punya wajah seorang Yesus yang disalibkan sepuluh kali, “ tulis Fallaci seperti seorang ibu yang gementar.*)

3 November 1979

Seandainya Anas tahu. Seandainya Anas tahu, bahwa saat itu ia tak membutuhkan kertas dan pena. Ia bahkan, tak sekalipun membacakan puisinya dan tak memerlukan seorang deklamator. Ia hanya menuliskan sajak-sajaknya dengan darah di penjara itu di tengah sunyi, sebelum ia tak berkata kata lagi. Dan ia juga tak pernah mengajak seorang siapa pun untuk dibawanya berduka.

Pada malam-malam di saat saya menulis puisi, ia suka terdengar seperti suara seruling yang mengalir ke kamar saya dari suatu tempat. Entah dimana.

Bangkalan, 19 Pebruari 2003.


*) Dikutip dari bukunya Goenawan Mohammad; Catatan Pinggir 1, dengan judul Oxi,
halaman 52-53. Cetakan Keempat, Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti – Jakarta.

Catatan Kecil

Untuk RUMAH BERSAMA Faizi Kaelan

R. Timur Budi Raja”

Manusia tidak pernah lepas dari subjektivitas. Setiap mempunyai kesubjektivitasan baca: cara pandang) yang berbeda dan tersendiri. Subjektivitas ini berakar dari adanya berbagai ragam situasi, kondisi yang dihadapi dan dialami oleh individu, yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

Berawal dari kesubjektivitasan itu, muncullah apa yang disebut dengan teori, dimana di dalamnya beragam cara pandang, pokok-pokok pikiran diolah, diramu, dan dilahirkan menjadi ‘sesuatu’ yang dijadikan panutan, teladan bagi yang lain dalam berbagai permasalahan yang dihadapi.

Subjektivitas ini pun merambah ke dunia sastra. Maka dalam dunia sastra dikenal juga istilah teori sastra. Dari mulai strukturalisme, pormodernisme, hingga deskontruksi juga dikenal dalam dunia sastra.

Khususnya dalam dunia puisi, penyair, setiap pembuat atau penulis, bahkan penikmatnya (= pembaca), memiliki subjektivitas yang terjadinya tidak dapat diganggu gugat. Cara pandang satu tidak dapat disalahkan oleh yang lain. Karena subjektivitas itu maka orang memiliki kebebasan untuk menafsirkan karya sastra atau puisi sesuai dengan cara pandangnya masing-masing.

Maka, tidak salah pula bila akhirnya saya mencoba menemukan ‘sesuatu’, sesuai dengan cara pandang saya, dari kumpulan puisi Rumah Bersama milik Faizi L. Kaelan.

Sebelum mulai, saya akan membaca satu bait puisi dari kumpulan ini, yang dari sana kita akan mulai berangkat membangun kebersamaan kita malam ini: Rumah ini adalah rumah bersama/tempat engkau membersihkan hidup/dari guguran daun-daun maut (RUMAH SAKIT).

Mengapa Rumah Bersama? Mengapa ‘ia’ yang dipilih menjadi judulnya? Mengapa rumah sakit lah Rumah Bersama itu? Mengapa …?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menjadi pokok pembicaraan kita malam ini. Marilah kita bersama mencoba mengira-ngira jawabannya, sebelum kita menanyakan kepada penulisnya, yang hadir pada malam ini.

Hanya mungkin, karena saya, sekali lagi mungkin, telah mendapatkan naskah kumpulan puisi ini, saya telah menemukan beberapa hal yang, lagi-lagi mungkin, dapat kita jadikan acuan dalam membangun kebersamaan kita malam ini, dan menjadi pengantar bagi para penikmat yang berkeinginan membacanya.

Rumah, menurut pemahaman saya, adalah tempat berkumpul, tempat berpulang, tempat berteduh, tempat berlindung, dan bahkan adalah tempat kita melakukan segala aktivitas kehidupan. Tapi mengapa Rumah Bersama? Jawaban pertama dari kira-kira saya adalah: kumpulan puisi ini adalah rumah bersama. Rumah berbagai segala bentuk dan formasi puisi yang ada. Rumah bagi beragam, bermacam jenis puisi, dari yang romantisme: Aku menikahimu/untuk membuktikan keteguhan hati/memilih belahan jiwa/sebagaimana janji puisi/pada kata-kata (PERNIKAHAN-PUISI), hingga yang merupakan satire: Taretan Maduraku!/sekali ini ada baiknya kita bertanya:/jika Arab punya Yasser Arafat/dan Afrika punya Nelson Mandella/lalu, Madura melahirkanmu sebagai apa? (MATTALI DAN MARKOYA).

Jawaban kira-kira saya yang kedua: penulis (atau saya sebut saja Mas Faizi) tak hendak membaktikan diri pada satu ‘cinta’. Bukan berarti dia tak setia. Tapi dia ingin berungkap bahwa ada beragam cara untuk berkata ‘cinta’. Sebagaimana ada beragam cara pandang dan dia tak berniat menyangkalnya. Ada yang suka mengatakan ‘cinta’ dengan kelembutan dan mendayu-dayu: Kerlip mata malammu/jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku (PERMAISURI MALAMKU). Ada yang mengungkapkannya dengan menggunakan logika dan mengharu-biru: Sungguh sedih nasib puisi/di dalam masyarakat yang tidak puitik/masyarakat agraris yang mengimpor beras/karena tak konkret, juga tak jelas/masyarakat yang bangga bila meniru/biar kacangan yang penting laku (PUISI DALAM MASYARAKAT YANG TIDAK PUITIK). Ada pula yang suka mengungkapkannya dengan begitu sederhana: Faruk dan aku bermain kata/kami dipermainkan kata-kata (PETAK UMPET). Namun, ada pula yang lebih suka berungkap dengan lebih gelap: Gemerisik pikiran/melayang-layang/menimbuni kesadaranku, satu-satu/berjalan di malam hari/perjalanan magrib menuju pagi (BERJALAN DI MALAM HARI).

Menurut kira-kira saya, Mas Faizi hendak berucap bahwa cara pandang yang berbeda bukanlah alasan untuk tidak bisa bersama. Ada ‘rumah’ yang siap sedia menerima perbedaan itu, dan ia adalah ‘rumah sakit’, katanya.

RUMAH SAKIT

Rumah itu adalah rumah bersama

tempat teknologi, doa, suka, dan duka

bertemu, bersilaturrahim, hidup bersama

dan akhirnya harus selalu setuju

maut memang tidak ada obatnya

Dalam benak saya (mungkin Anda juga) tentu turut bersepakat padanya. Gambaran rumah sakit, tempat dimana orang-orang sakit orang-orang dengan penyakit, datang mengadukan nasib, beserta keluarga, teman, atau bahkan dengan orang yang tak dikenalnya. Mereka bersama. Dan dokter serta suster yang ada tergopoh-gopoh menyambutnya, membantu, merawat, dan memberikan semangat, meski mereka tak saling mengenal nama.

Di salah satu lorong, selang infus membantu memberi waktu. Kerabat-kerabat mulai berdatangan sembari menghitung waktu (dan dengan doa tentu!). sementara, di lorong lain, tak ada lagi waktu untuk berdzikir. Karena Tuhan telah mengirimkan Izrail, dan orang-orang pun tinggal menangis agingging.

Demikianlah. Mas Faizi tak salah. Saya pun juga tak berharap salah. Rumah sakit memang rumah bersama. Namun jangan sampai Rumah Bersama membuat kita masuk rumah sakit bersama-sama karena sakit kepala setelah menikmatinya! Selamat membaca!

‘Sebagai bahan acuan dalam membangun kebersamaan di malam Jumat, 28 Juni 2007, dalam rangka Bedah Buku Rumah Bersama karya Faizi L. Kaelan yang diadakan oleh STKIP Bangkalan-Madura

‘’Rakyat Indonesia