Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2008

TENTANG KEMERDEKAAN

R. Timur Budi Raja

Masih ingat dengan lirik lagu ini:
"Tujuh belas Agustus tahun empat lima. Itulah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia,…Merdeka!….."
Dan benar. Indonesia memang telah mengajukan kedaulatannya pada hari itu, tanggal 17 Agustus 1945 yang silam kepada dunia. Seluruh rakyat Indonesia menangis. Bukan karena sedih, tapi lantaran keharuan yang dalam mengenang perjalanan sakit dan perihnya luka beratus tahun di bawah kaki penindasan bangsa asing -para penjajah-, yang datang dari belahan bumi yang lain.
Tangis keharuan yang jatuh pada saat itu, tentu saja adalah tangis keharuan yang wajar. Yang tidak mengada-ada dan bukan atas nama semacam romantisme atau kecengengan-kecengengan yang dangkal terhadap sejarah. Airmata tersebut barangkali memang musti jatuh, dan mungkin untuk sekali itu saja.
Perasaan kepemilikan akan persoalan yang sama -pada awalnya hanya bicara tentang kedaerahan, yang pada akhirnya menjadi bersifat nasional- itu, yakni ketertindasan, menyebabkan mereka mengangkat senjata untuk melawan.
Latar belakang kesamaan sejarah, nasib, wilayah, itikad dan tujuan yang pasti telah mempertemukan mereka -para pejuang, dan orang-orang yang berdiri di depan sekali mengawal bangsa dan negeri ini-. Baik di tengah-tengah medan peperangan atau pun juga pada saat berpikir keras untuk menentukan keputusan-keputusan mendesak, di antara situasi dan kondisi yang serba darurat dan genting di dalam kerangka persiapan kemerdekaan.
Tema persatuan adalah kunci dari adanya komitmen untuk menyatakan diri bersama-sama sebagai suatu bangsa, lalu membentuk dan membangun sebuah negara.
Pengalaman pada waktu itu telah memberikan sebingkai cermin dan mengajarkan, bahwa gerakan perlawanan yang bersifat kedaerahan terhadap tirani apa pun atau dinding kekuasaan suatu rezim tertentu, terbukti cuma menghasilkan kegagalan demi kegagalan semata. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kesadaran baru dan kesepakatan bersama dalam memberi arti terhadap rasa kebersamaan, persatuan, ideologi dan gerakan-gerakan perlawanan yang dilakukan.
Persatuan? Kebersamaan? Ya, tentu saja. Karena hal-hal tersebut jelas-jelas memberi kekuatan bagi keberlangsungan hidup dalam konteks berbangsa dan bernegara.
Baiklah, itu telah berlalu. Bisa dianggap masih dekat atau, bahkan jauh sekali tertinggal di belakang. Kita dapat melipatnya, sambil sedikit ketawa dan berujar " Ah, itu sudah menjadi sejarah! ".
Di bulan Agustus tahun ini kita -bangsa Indonesia-, kembali merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-63. Lampu-lampu merkuri dipasang dimana-mana. Kembang api warna-warni dinyalakan, membuat malam menjadi meriah. Spanduk-spanduk bertuliskan semangat kemerdekaan dan selamat ulang tahun ke-63 dipajang di sepanjang jalan-jalan protokol. Bendera merah putih dikibarkan di depan rumah, di kantor-kantor dan seluruh instansi pemerintah yang ada di kota, di desa, di dusun dan di kampung-kampung. Lagu-lagu dan mars kebangsaan terdengar riuh di setiap upacara yang dilaksanakan. Beragam aktivitas kegiatan diadakan. Aneka perlombaan dan adu kreativitas digelar. Mulai dari perlombaan yang menggunakan kekuatan fisik atau otot seperti balap karung, pacuan kuda, panjat pinang, makan kerupuk, sampai pada perlombaan yang menggunakan kemampuan pikiran.
Di setiap stasiun TV dan radio disiarkan, bagaimana presiden, wakil, seluruh menteri dan stafnya tiba-tiba menitikkan airmata pada waktu upacara sedang berlangsung.
Beberapa orang yang ikut memiliki andil pada masa perjuangan pra kemerdekaan, yakni menghalau penjajah di setiap medan peperangan yang terjadi sampai pada ketika proklamasi diperdengarkan kepada dunia, tidak mungkin melupakan begitu saja heroikme suasana pada waktu itu. Keterikatan bathin mereka dengan suasana yang mereka kenal dengan baik itu, tentu saja akan membuat mereka bergetar kembali mengingatnya. Kalau pun mereka menangis, yang jelas tidak untuk dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang atau generasi yang bukan produk dari jaman itu hanya bisa mendengarkan "ceritanya" lewat orang tua, buku-buku bacaan, lagu-lagu perjuangan, mars kebangsaan dan mata pelajaran sejarah yang diajarkan di bangku-bangku pendidikan dasar formal yang justeru terkadang belum tentu sepenuhnya benar. Sebagian orang yang saya maksudkan di sini adalah angkatan generasi yang lahir pada jaman dimana "perang melawan ekspansi orang-orang asing" telah lewat.
Perang tersebut memang telah berlalu. Tapi perang-perang baru dalam berbagai bentuk sedang dialami bangsa kita. Perang dalam berbagai lini dan konteks aktivitas sosial sesungguhnya tengah dimulai.
Beberapa puluh tahun saja setelah peristiwa proklamasi itu, tiba- tiba kita menjadi terlalu congkak menatap keberadaan diri kita sendiri. Pada saat angkuh berdiri, kita kerap lupa bahwa bumi tempat kita berpijak sesungguhnya telah longsor dan terancam. Apa sesungguhnya yang terjadi dengan kita atau bangsa ini? Bahwa kita semakin jauh dari nilai-nilai dan tradisi, bahwa kita tidak pernah dekat dan mengenal akar budaya kita berasal. Stempel-stempel dan istilah-istilah seperti masyarakat baru, masyarakat modern, negara berkembang, masyarakat industri, era globalisasi dll. yang ditiupkan oleh "jaman baru" yang kita sebut ini telah cukup lama membuat kita terlalu penat dan terasing.
Belum lagi persoalan-persoalan umum menyangkut realitas dan perilaku kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyat untuk melegitimasi kekuasaan dengan berbagai alasan, ketidakadilan ekonomi, pencaplokan dan penggusuran tanah, kesenjangan pendidikan, perilaku korup dan lain-lain masih saja selalu kita rasakan dan dengar setiap waktu di negeri ini.
Diam-diam saya teringat seorang lelaki tua bekas pejuang kemerdekaan bernama Romo, yang suka meledak-ledak ketika berbicara dan bercerita tentang jamannya. Ia yang suka berpakaian seperti halnya pakaian Pak Dirman itu, hanya memiliki kebanggaan-kebanggaan yang sederhana. Romo, lelaki yang sering memakai sepeda onthel berkeliling kota itu, suka menundukkan kepala dan menangis di bawah tiang bendera. Entah mengapa.
Atau kepada Tedjo dan Sarjikun. Kawan-kawan sepermainan saya dulu di kampung, yang setamat dari bangku sekolah dasar harus kembali ke sawah karena tidak mampu meneruskan sekolah. Beberapa waktu yang lalu, mereka sempat menjadi pedagang kaki lima di Surabaya. Tapi tidak bertahan lama. Menurut Tedjo, barang-barang dagangan serta rombong kaki lima miliknya dan teman-teman seprofesinya, dihancurkan begitu saja oleh Satpol PP dan dibawa entah kemana.
Bahkan, kata Tedjo lagi, beberapa mahasiswa yang menggelar aksi demo menentang tindakan "kejahatan kolektif" semena-mena antara Pemkot dan Pengusaha setempat itu, dipukuli oleh aparat keamanan. Saya hanya dapat memandang Tedjo yang sadar terhadap hak-haknya yang sangat sederhana, sebagai bagian dari bangsa ini.
Konon negara ini memiliki undang-undang, dimana salah satu pasalnya menyatakan, bahwa negara menjamin kemerdekaan setiap penduduknya untuk memperoleh penghidupan yang layak.


Bjn-Sby, 16-17 Agustus 2003

Senin, 16 Juni 2008

TENTANG ANAS, KAWAN-KAWAN SAYA,

GARCIA LORCA, ALEXANDROS PANAGOULIS
DAN
KESEDIHAN ITU,…SUARA-SUARA ITU

R. Timur Budi Raja


“Aku mengingat kesedihan bertiup di udara terbuka”
(Federico Garcia Lorca)

“Sifat sebagian besar para penyair itu rakus. Tamak. Dengan gaya baca puisi yang jelek mereka tetap berbesar hati membawakan puisi-puisinya di panggung atau di forum-forum. Mengapa mereka tidak mempercayakan kepada para deklamator? Mengapa mereka tidak memberi ruang kepada deklamator? Atau, apakah akan demikian selamanya, bahwa deklamator itu hanya hidup dari lomba ke lomba?“ demikian Anas –seorang pembaca puisi-, berbicara berapi-api tapi cukup sedih.

Anas kawan saya ini saya kenal kurang lebih dua tahun yang lalu di Taman Ismail Marzuki (TIM), ketika saya diundang membacakan puisi dalam rangka Pembacaan Puisi Para Nominator Lomba Cipta Puisi Anti Kekerasan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Award yang diselenggarakan oleh Yayasan KSI di Jakarta. Konon, ia lama di TIM, bertemu dengan banyak seniman dan katanya lagi, sempat bermain film.

“Ah, jangan-jangan ini hanya kecemburuan Anas saja terhadap para penyair karena merasa dunianya, dunia baca puisi terganggu,“ celetuk Ale’ tiba-tiba.

“Tampaknya kamu melupakan satu hal, Kawan Anas. Bahwa tanpa adanya penyair, apalah arti seorang deklamator? Bukankah puisi diciptakan oleh penyair?“ Guruh –seorang kawan yang lain- seakan mengingatkan.

“Bukanlah persoalan kupikir, apakah penyair suka membacakan puisi-puisinya atau tidak, meski cara dia membaca jelek. Mengapa? Ya, puisi lahir memang untuk dibaca. Dan yang kedua, bahwa hal tersebut adalah bagian dari otoritas penyair. Jadi saya pikir hal yang kau angkat sebagai persoalan, sungguh terkesan mengada-ada,“ tandas Guruh lagi.

“Jangan minta legitimasi eksistensi deklamator terhadap para penyair! Buat sajalah kegiatan sendiri, bikin forum sendiri dan jangan sakit hati! Baca puisi siapa saja di situ. Silakan diedel-edel, dibongkar –bongkar, dibaca penuh sambil jungkir-balik atau tidak,…Terserah! Mau diteaterkan, dideklamasikan, dimusikkan, ditarikan atau pun disenirupakan, buatlah itu urusanmu!“ Dedek pun ikut masuk ke dalam perbincangan ini, seperti melompat begitu saja.

“Kau bisa saja beralasan, bahwa dunia teks atau naskah sangatlah memiliki perbedaan dengan dunia panggung atau pertunjukan. Artinya, bila ada yang bertanya kepadamu dengan nada marah: Mengapa begitu?… Jawab saja, bahwa tugas seorang penyair atau penulis telah selesai, ketika naskah yang ditulisnya selesai. Dan dunia panggung adalah dimensi yang lain, kerja yang lain, atau dan…bisa saja adalah orang yang lain pula,“ sambung Dedek.

“Kawan-kawan! Lepas dari kecemburuan seorang Anas, yang jelas ada hal menarik di sini untuk direnungkan kembali bersama-sama. Lebih jauh lagi, aku menangkap barangkali memang sudah ada pergeseran makna tentang penyair secara istilah atau definisi. Kalau dulu atau kemarin peran penyair adalah sebagai seorang penulis,..maksudku pencipta dan sekaligus pula membacakannya. Sedangkan pemahaman dan pemaknaan tentang seorang penyair yang dibawa Anas, sebagai seorang deklamator, hanya cukup sebagai seorang penulis saja. Aku tidak tahu, apakah dunia kepenyairan mengalami perkembangan atau sebaliknya karena adanya hal ini. Yang jelas ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut,…” Enes yang sejak tadi jadi pendengar yang baik, akhirnya turut pula turun menengahi.

Saya diam saja. Saya pun adalah seorang pendengar yang baik. Meski disisi yang lain, saya sungguh ingin melontarkan pendapat yang berisi ketidaksepakatan saya terhadap Anas.

Diam-diam, saat itu ada banyak nama bergetar di benak saya. Mereka datang seperti ingin menjelaskan diri mengapa mereka menulis sajak dan bagaimana mereka memahami penderitaan. Saya mengenang Lorca yang menghadapi kematian dengan begitu tenang pada detik-detik terakhir, dimana ia sebentar kemudian akan ditembak oleh beberapa tentara di Spanyol -di negerinya-, karena dianggap berbahaya oleh penguasa pada jamannya.

Dan seandainya Anas tahu, bahwa jauh di ujung ingatan dari yang bernama masa lalu, terdapatlah seorang penyair bernama Alexandros Panagoulis.

…Yunani kemudian bebas. Tapi dalam sejarahnya lalu datang sejumlah perwira yang kemudian terkenal dengan sebutan “ para kolonel “. Mereka mengambil alih kekuasaan. Yunani jadi kediktatoran, kali ini oleh anak kandungnya sendiri. Dan di negeri tempat lahirnya demokrasi itu demokrasi pun dianggap asing, hendak dihapus, seperti juga mereka mencoba menghapus kata oxi di dataran Peloponnesus…..

…,ada pula seorang penyair Yunani yang disiksa “ para kolonel “ dan menulis puisi dengan darah…..

…Oriana Fallaci telah bertemu dengan Alexandros Panagoulis. Dialah penyair yang ditahan, disiksa, dan menulis sajak di penjara dengan tetesan darahnya. Dialah penyair yang digebuk, disetrum, digantung, dikerangkeng, dalam sel paling sempit, dan dalam usia muda keluar ke bumi dengan wajah seorang tua. “ Hari itu ia punya wajah seorang Yesus yang disalibkan sepuluh kali, “ tulis Fallaci seperti seorang ibu yang gementar.*)

3 November 1979

Seandainya Anas tahu. Seandainya Anas tahu, bahwa saat itu ia tak membutuhkan kertas dan pena. Ia bahkan, tak sekalipun membacakan puisinya dan tak memerlukan seorang deklamator. Ia hanya menuliskan sajak-sajaknya dengan darah di penjara itu di tengah sunyi, sebelum ia tak berkata kata lagi. Dan ia juga tak pernah mengajak seorang siapa pun untuk dibawanya berduka.

Pada malam-malam di saat saya menulis puisi, ia suka terdengar seperti suara seruling yang mengalir ke kamar saya dari suatu tempat. Entah dimana.

Bangkalan, 19 Pebruari 2003.


*) Dikutip dari bukunya Goenawan Mohammad; Catatan Pinggir 1, dengan judul Oxi,
halaman 52-53. Cetakan Keempat, Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti – Jakarta.

Minggu, 08 Juni 2008

ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA

:LANSKAP KEKERASAN DALAM NARASI PUITIK

R. Timur Budi Raja

I.

Saat sajak-sajak ini disodorkan hingga sampai di tangan saya, tak ada lain yang melintas di benak saya, kecuali kecurigaan. Tepatnya, keinginan untuk mencurigai. Lebih-lebih mengingat ketika kawan saya, Taqin, -sang penelepon gelap yang berposisi di Surabaya itu-, mengabarkan bahwa satu jam kemudian pasca kontak dia akan berkunjung ke tempat saya di Junok.

“Wah, brengket benar Si Taqin! Bukankah jarak dari Surabaya ke Bangkalan tidak cukup ditempuh dengan waktu satu jam perjalanan?” begitu saya berpikir normatif. Pikiran normatif itu langsung ambyar, ketika tiba-tiba di kepala saya meledak kembali kisah pesawat Challenger, yang sesungguhnya telah lama sayup dalam ingatan pengetahuan saya. “Apakah rumus-rumus matematika dan fisika itu masih menjadi penting untuk menghitung kemungkinan dan kepastian?” pikir saya lagi.

Ah, saya cuma bisa terkejut saja ternyata. Lalu mengklaim rencana kedatangannya itu sebagai sebuah gagasan kenakalan terburu-buru yang kejam.

Bagaimana tidak? Kampung saya saat itu tengah dirawat oleh sejumlah perasaan takut dan bersalah, setelah peristiwa pembantaian yang dilakukan satu keluarga besar blater, -warga kampung saya-, terhadap tiga orang warga dari kampung lain. Dimana-mana media massa memberitakannya.

Para pelaku pembantaian beserta keluarga besarnya memang telah pergi jauh melarikan diri dari balas sakit hati keluarga korban dan kejaran aparatur hukum, entah kemana. Tapi, kengerian yang ditinggalkannya kami rasakan terus berhembus dari satu rumah ke rumah yang lain, menggerogoti jam-jam hening yang berlesatan. Seluruh warga di kampung saya tak ada yang berani keluar rumah pada malam hari, seperti ada kekhawatiran yang berkembang menjadi keyakinan di tengah kami, bahwa akan ada serangan balasan yang membabi buta dari kampung korban untuk membantai siapa pun dari kampung kami. Akhirnya, warga memilih dan menentukan sikap awas terhadap siapa saja.

Taqin? Tidakkah dia mendengarnya? Tidakkah dia membacanya?

II.

Curiga? Kecurigaan? Mencurigai?

Cukup aneh memang. Tapi begitulah, saya seorang yang negatif. Dan saya beruntung karena kebiasaan atau cara pandang yang demikian, justru membuat saya terus tertantang untuk menajamkan seluruh kepekaan, menemukan detil dan membuat reka-reka perimbangan yang mendekati obyektif, dari menu-menu persoalan yang saya hadapi.

Narsis? Mungkin saja! Tapi bukan itu yang hendak saya paparkan.

Dulu, secara kebetulan saya pernah mendengar kalimat-kalimat ini:

“Tuhan itu ada, atau kita yang mengadakan Tuhan?”

“Mana yang benar; Perempuan yang mandi di sungai, atau sungai yang mandi pada (tubuh) perempuan?”

Pernyataan atau pertanyaan tersebut memang klise, tapi juga kritis, dekonstruktif, subversib, dan provokatif. Mengundang pikiran-pikiran saya untuk berkembang curiga. Curiga dan berpikir kepada (kenyataan) Tuhan itu sendiri, curiga kepada siapa (si) yang mengatakannya dan curiga kepada sejarah (nya).

Pertama, demi proses berpikir, keduanya menjadi sangat menarik dan dialektik. Kedua, sebagai hasil atau capaian, keduanya (dalam pandangan saya) sama benarnya.

Sajak-sajak dalam buku ini juga telah mengantarkan saya pada kecurigaan yang sebangun. Apakah kelahirannya memang dikehendaki sang penyair, sebagai anak yang ditunggu-tunggu dan kelahirannya musti dirayakan (dengan cara launching, misalnya)? Atau sebaliknya; mereka adalah bahasa kegagalan penyair saat mimpi basah, kalimat-kalimat hitam yang gagap tak bermuara tapi belingsatan minta dituliskan, bergestur sajak tapi rohnya hantu, anak-anak yang didesak untuk lahir hingga tak sempurna secara fisik atau bawaannya (premature, demikian kira-kira istilahnya?)

Kelahiran sebuah sajak seperti layaknya kelahiran seorang manusia. Membutuhkan waktu panjang dan proses yang berantai. Seorang anak lahir dari rahim manusia berjenis kelamin perempuan, yang kelak kemudian dipanggilnya ibu, yang telah melakukan perkawinan dengan manusia berjenis kelamin laki-laki, yang nanti disebutnya ayah.

Sang ibu memiliki sel telur yang merupakan cikal-bakal manusia baru. Untuk membentuk manusia dibutuhkan pembuahan dan inilah peran manusia berjenis kelamin laki-laki. Dia membuahi sel telur dengan apa yang disebut sperma. Bila antara sel telur dan sperma ada kecocokan, maka terbentuklah tubuh manusia. Selama sembilan bulan sembilan hari manusia baru memulai tahap awal kehidupannya dalam rahim seorang ibu. Setelah itu, waktu pun mendesak melahirkannya. Dalam proses kelahirannya, dia tidak berjuang sendiri. Sang ibu turut bersikeras melepas sakit airmatanya agar buah hatinya lahir dan selamat.

Namun, tidak semua manusia terlahir dikehendaki sang ibu dan ayahnya. Ada mereka yang terlahir karena terpaksa dan atau dipaksa untuk lahir. Mereka melampaui proses itu dengan terpaksa dan atau dipaksa pula. Dengan kata lain, mereka dilahirkan secara premature. Belum selesai proses itu dilewati, mereka dipaksa untuk segera melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya, tanpa diberi kesempatan untuk menentukan pilihan. Sebagian dari yang terpaksa dan atau dipaksa tersebut mampu melampaui proses itu dengan baik, berhasil melanjutkan ke proses kehidupan selanjutnya. Sebagian yang lain harus menerima nasib: tak sempat menghirup udara bumi yang penuh polusi, kolusi, dan nepotisme ini.

Demikian pula sajak!

Kehadiran sajak seperti layaknya kelahiran manusia, karena sengaja untuk dilahirkan, terpaksa untuk dilahirkan, atau kehendak memaksanya dilahirkan. Hasilnya, tidak semua sajak berhasil menurut kacamata sastra!

Lalu, bagaimana dengan sajak-sajak dalam buku ini?

III.

Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan, “Sebuah sajak adalah hasil dari sebuah proses. Dari awal sampai akhir proses itu, si penyair terlibat sepenuhnya. Begitu memabukkan, sehingga di ujung proses itu biasanya terkejut.”

Artinya, sajak yang telah selesai ditulis dan berhasil itu mempersonifikasikan diri sebagai sesuatu yang tak ia kenal, atau menjadi berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah dibayangkan si penyair. Bisa jadi, karena seluruh yang disadari dan yang tidak disadarinya dilepaskan ke dalam sajak itu. Kerja kreatif memang bukan kerja spekulan, itulah sebabnya!

Goenawan Mohammad juga menulis: “Apa gunanya seorang penyair menulis sajak, kalau sajaknya dapat diuraikan isinya secara tuntas.”

Dengan kata lain, sebuah sajak, sebagai hasil dari proses yang ‘mabuk’, yang segala ucapannya tidak mudah untuk dipahami oleh pembaca dalam sekali baca. Membutuhkan pemahaman dalam memaknai sebuah sajak.

IV.

Setelah melampaui proses pemahaman yang cukup lama, saya masih juga tak mudah menemukan ukuran apa yang akan saya gunakan sebagai bekal pembacaan saya terhadap sajak-sajak dalam buku ini. Ada beberapa sajak yang musti saya baca berulang-ulang, hingga saya tiba di kedalaman dunia yang dibangunnya. Ada sebagian yang saya perhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu saya menemukan sesuatu. Membacanya kembali dan berkali-kali menemukan sesuatu. Ada pula yang dengan terpaksa harus saya tinggalkan, dengan perasaan menyesal, dimana membaca baris pertamanya saja telah cukup bagi saya.

Karena semangat kecurigaan saya cukup besar, maka saya pun segera memutuskan untuk kembali men-serius-i kegiatan membaca!

Eit, tunggu dulu! Curiga karena apa? Curiga atas apa?

Asumsi awal pada pembacaan pertama, saya ‘menuduh’ Arif “Nyambek” Rahman, Dodik Kristanto, M. Sijjib, dan Ilham Persyada Syarif (para penyair dalam buku ini) telah mengalami keterjebakan ke dalam aktivitas pengekploitasian dan penimbunan kata-kata. Kaya diksi, boros dan maknanya tak utuh.

Disadari atau tidak, pada beberapa sajak (lihat: Fragmen Sore, Fragmen Batu Berlumut, Madu Lembayung, Biji Sunyi, Kari), kerap terjadi pengulangan-pengulangan (repetisi) kata dan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak dilakukan. Bukankah pengulangan-pengulangan itu akan menjadi para pengganggu, bila kehadirannya tidak banyak berarti?

Bukan berarti bahwa sajak tak boleh mengenal repetisi atau pengulangan kata/kalimat, sebagaimana bahasa Indonesia sewajarnya. Pengulangan-pengulangan itu biasanya dilakukan untuk mengejar bunyi, makna dan efek-efek tertentu.

Dari sudut yang lain, dengan masih berlatar belakang kecurigaan, saya mencium aroma kecenderungan militeristik yang seragam dan pola-pola pendekatan kekerasan yang dilakukan dalam merepresi kata-kata. Membuat jalinan-jalinan sengkarut dan membentuk metafor-metafor kesakitan. (Lihat: Duka Muara, Rumah Sakit, Mata Sapi)

Bila benar, saya khawatir, pada kerja kepenulisan kreatif seperti inilah kata-kata kehilangan kesadarannya yang wajar.

Meski saya masih tetap saja curiga, jangan-jangan lanskap-lanskap kekerasan yang terjadi terhadap kata-kata dan bangunan teks sajak-sajak dalam buku ini merupakan represesentasi dari traumatika sejarah, potret-potret ingatan kegusaran realitas social politik yang gemuruh penuh konflik. Lalu para penyair ini dan generasi angkatan mereka; anak-anak yang setiap pagi memunguti airmata itu, mereka yang menyimpan kesakitan kota besar, menatap dan mencatat seluruh “kebrengketan” seluruh orde lewat kisah-kisah dan ingatan social. Ketakutan yang mengajari mereka kemudian untuk belajar memegang pisau garpu dan melakukan kekerasan terhadap kata-kata.

***

Namun, dunia sajak bukanlah sebuah dunia dengan kewajaran yang mutlak, kewajaran yang terjadi pada realitas manusia sehari-hari.

Sajak juga memang tak diharuskan untuk mengenal adanya gramatikal. Dunia sajak adalah dunia dimana realitas murni dan realitas imajinasi terbangun dalam sebuah teks, sama-sama memiliki logika dengan pengertian yang sepadan, yaitu sebagai benang merah kata-kata. Dunia sajak adalah dunia subyektivitas. Tak salah dan tak benar, tak hitam putih selayaknya realitas murni yang kita alami.

Pembaca pun tak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak adalah realita yang ada di sekeliling kita. Namun pembaca juga tidak bisa (berhak) menganggap bahwa sajak hanyalah imajinasi sang pengarang, sebuah realita yang tak pernah ada di sekeliling kita.

Maka, yang ada ketika membaca sebuah sajak adalah dengan membuang seluruh realita, imajinasi di kepala kita, dan menerima sebuah realita yang baru, yang ada dalam sajak itu sendiri.

V.

Bersama kecurigaan yang terus menggayut di kepala saya, beberapa sajak telah menempatkan posisi terdepan untuk membuat saya cepat-cepat menggapainya dan menyodorkannya di hadapan pembaca. Sajak-sajak itu telah menarik diri saya pada kedalaman makna yang telah dibangunnya. Setiap kata, kalimat membangunkan imajinasi saya pada sebuah tempat tertinggi, dan melelapkan saya pada keindahan-keindahan hakiki dalam pandangan saya.

VI.

Sebagaimana apa yang telah saya kemukakan, tak ada kewajaran yang mutlak dalam sebuah sajak, maka tak ada pula yang mutlak dari kecurigaan saya. Keberhasilan sajak-sajak tetap bergantung kepada “kecurigaan” para pembacanya. Maka, mari mulai mencurigai dan membaca sajak-sajak dalam buku ini!

***

Bangkalan, 13 Februari 2008

Disampaikan dalam diskusi dan bedah buku antologi puisi “DUKA MUARA”, karya tujuh penyair Komunitas RaboSore, di Joglo, UNESA, pada hari Rabu, tanggal 13 February 2008.