R. Timur Budi Raja
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Pengubur 1
“Seperti kami, 50 tahun usianya dihidupi penderitaan, darah, kematian, orang-orang yang diburu dan dibantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang-orang yang diburu itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi gerimis.
Pengubur 2
(meletakkan cangkul)
Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adalah pertikaian yang dimulai dari kejahatan janji. Tentara pusat datang dan mencoba membungkam teriakan kami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka tidak memperbolehkan kami berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk tidak hidup bersama mereka. Ya, bersama mereka! Negara telah membuat mereka tak mengenal kami sebagai saudara yang harus memilih jalan lain.
Pengubur 3
Kemudian mereka menculik seluruh kaum laki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan suaminya, anak-anak gadis diperkosa, dan laki-laki yang lain harus pergi ke hutan-hutan.
Pengubur 4
Sudahlah! Tak baik kita mengingatnya lagi. Jangan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini, menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih baik.
Pengubur 2
Tidak! Aku mulai mempertanyakan, kenapa harus selalu tanah ini? Kenapa penderitaan selalu datang dan bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku jadi sangsi!
Pengubur 1
Tutup mulutmu! Jangan biarkan pikiranmu kotor, akankah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan keadilan Tuhan.
Pengubur 3
Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, ditanah ini? Bertahun-tahun kita tenggelam dalam penderitaan ini.
Pengubur 4
Kau gila. Kalian berdua gila!
Pengubur 2 & 3
Ya, kami memang gila! Kami mulai sangsi, kami mulai tidak percaya terhadap apa-apa dan siapapun. Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghianati kepercayaan kami
Pengubur 1
Cukup! Musibah ini telah terjadi, lebih baik kita kuburkan mayat-mayat saudara kita ini. Apakah akan kita biarkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?
4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.
Bangkalan-Sumenep, 2004
Malam itu ia lebih hijau dari gaunmu, dan ia mendongeng tentang kunang-kunang yang tertinggal di dalam pagi kenangan. Lelaki itu jadi suara yang hilang. Suara yang tak mau taqzim pada risau waktu.
Tampilkan postingan dengan label Naskah Lakon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Lakon. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Juni 2008
Minggu, 15 Juni 2008
PENJARA MATAHARI
R. Timur Budi Raja
Pada saat lampu dihidupkan, pertanda pertunjukan ini dimulai. Cahaya kuning, pucat memecah ke seluruh ruang. Sebuah trap kecil berada di tengah panggung. Di atasnya, sebatang lilin menyala redup. Kemudian terdengar letup senapan, sekali saja. Lampu pun padam.
ADEGAN I
Dua orang perempuan masuk ke panggung.
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
Kedua perempuan ke luar membawa lilin yang padam.
ADEGAN II
Sang Tokoh. Masuk.
Celana yang dikenakannya pendek hitam, Ia berbicara dengan hatinya. Musik ngelangut. Usahakan penonton terbawa tanpa harus memecah perhatian ke arah yang lain. Sebentar saja.
Musik mereda tiba tiba, disusul suara dari luar.
“Kamu telah membunuhnya!”
(Sang Tokoh terkejut, mencari asal suara).
“Kamu telah memadamkan api!”
(Sang Tokoh mulai gelisah).
Suara dari luar panggung
“Bukankah kamu menginginkannya mati?
“Bukankah kamu benar-benar membencinya?
“Bukankah kamu telah mencincang tubuhnya sebelum mayatnya dibuang ke laut?
ADEGAN III
Keadaan menegang. Sang Tokoh memanggil Parmin dan Paijo.
Parmin dan Paijo tergesa-gesa masuk. Mereka mengambil posisi di samping kiri dan kanan Sang Tokoh.
Sang Tokoh.
“Kenapa dinding ini bergerak, kenapa setiap sudut tembok ini berbicara?”
Parmin dan Paijo tak menjawab.
(Suasana ngelangut lagi)
Sang Tokoh. Asyik dengan dirinya.
ADEGAN IV
Suasana menghening. Tak ada aktivitas.
Ada tembang di luar.
“Ngger tidurlah ngger! Matahari yang kau lipat ke dalam sepatumu anakku, tidaklah tersia-sia. Semesta menyambutmu dalam kedamaian. Dalam kedamaian!”
ADEGAN V
Parmin dan Paijo mematung.
Suara dari luar.
“Tapi kamu telah membunuhnya!”
“ya, dia membenamkan peluru ke tubuh pemuda itu!”
Sang Tokoh memandang kedua telapak tangannya.
Seperti bertanya entah kepada siapa;
“Darah, … darah? Peluru, … peluru?”
ADEGAN VI
Musik agak ribut, suasana tegang. Sang Tokoh sontak berteriak,
“Diam, aku tak ingin membunuhnya! Aku cuma tak sengaja menembaknya. Aku hanya ingin menakut-nakutinya! Aku cuma ingin mendiamkan tatapannya yang liar!”
Suara dari luar.
“Tapi kematian telah terjadi!”
“Suara-suara kemerdekaan telah dibungkam!”
Sang Tokoh limbung. Berteriak lagi.
“Diam! Aku tak, ……………………… Parmin, Paijo … !”
Tangan Sang Tokoh menunjuk ke luar.
Parmin dan Paijo berlari.
Suara dari luar.
“Kamu telah membunuh matahari!” (musik tegang)
“Kamu telah melukai hidup!” (musik semakin tegang)
“Kamu telah memenjarakan lidah!”
“Kamu tidak membiarkan udara menetes dan mengalir!”
Suara tembakan tiba tiba pecah di tengah situasi ini. Musik berhenti. Sang Tokoh memegang dada sebelah kiri, terhuyung ke arah penonton. Lalu jatuh!
ADEGAN VII
Dua orang perempuan masuk. Mengambil Sang Tokoh.
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!” Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
- Pertunjukan selesai -
Pada saat lampu dihidupkan, pertanda pertunjukan ini dimulai. Cahaya kuning, pucat memecah ke seluruh ruang. Sebuah trap kecil berada di tengah panggung. Di atasnya, sebatang lilin menyala redup. Kemudian terdengar letup senapan, sekali saja. Lampu pun padam.
ADEGAN I
Dua orang perempuan masuk ke panggung.
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
Kedua perempuan ke luar membawa lilin yang padam.
ADEGAN II
Sang Tokoh. Masuk.
Celana yang dikenakannya pendek hitam, Ia berbicara dengan hatinya. Musik ngelangut. Usahakan penonton terbawa tanpa harus memecah perhatian ke arah yang lain. Sebentar saja.
Musik mereda tiba tiba, disusul suara dari luar.
“Kamu telah membunuhnya!”
(Sang Tokoh terkejut, mencari asal suara).
“Kamu telah memadamkan api!”
(Sang Tokoh mulai gelisah).
Suara dari luar panggung
“Bukankah kamu menginginkannya mati?
“Bukankah kamu benar-benar membencinya?
“Bukankah kamu telah mencincang tubuhnya sebelum mayatnya dibuang ke laut?
ADEGAN III
Keadaan menegang. Sang Tokoh memanggil Parmin dan Paijo.
Parmin dan Paijo tergesa-gesa masuk. Mereka mengambil posisi di samping kiri dan kanan Sang Tokoh.
Sang Tokoh.
“Kenapa dinding ini bergerak, kenapa setiap sudut tembok ini berbicara?”
Parmin dan Paijo tak menjawab.
(Suasana ngelangut lagi)
Sang Tokoh. Asyik dengan dirinya.
ADEGAN IV
Suasana menghening. Tak ada aktivitas.
Ada tembang di luar.
“Ngger tidurlah ngger! Matahari yang kau lipat ke dalam sepatumu anakku, tidaklah tersia-sia. Semesta menyambutmu dalam kedamaian. Dalam kedamaian!”
ADEGAN V
Parmin dan Paijo mematung.
Suara dari luar.
“Tapi kamu telah membunuhnya!”
“ya, dia membenamkan peluru ke tubuh pemuda itu!”
Sang Tokoh memandang kedua telapak tangannya.
Seperti bertanya entah kepada siapa;
“Darah, … darah? Peluru, … peluru?”
ADEGAN VI
Musik agak ribut, suasana tegang. Sang Tokoh sontak berteriak,
“Diam, aku tak ingin membunuhnya! Aku cuma tak sengaja menembaknya. Aku hanya ingin menakut-nakutinya! Aku cuma ingin mendiamkan tatapannya yang liar!”
Suara dari luar.
“Tapi kematian telah terjadi!”
“Suara-suara kemerdekaan telah dibungkam!”
Sang Tokoh limbung. Berteriak lagi.
“Diam! Aku tak, ……………………… Parmin, Paijo … !”
Tangan Sang Tokoh menunjuk ke luar.
Parmin dan Paijo berlari.
Suara dari luar.
“Kamu telah membunuh matahari!” (musik tegang)
“Kamu telah melukai hidup!” (musik semakin tegang)
“Kamu telah memenjarakan lidah!”
“Kamu tidak membiarkan udara menetes dan mengalir!”
Suara tembakan tiba tiba pecah di tengah situasi ini. Musik berhenti. Sang Tokoh memegang dada sebelah kiri, terhuyung ke arah penonton. Lalu jatuh!
ADEGAN VII
Dua orang perempuan masuk. Mengambil Sang Tokoh.
“Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!” Ambil, ambil hatinya! Masukkan ke dalam gelas bening, cucikan pada mata air, lalu lemparkan ke bulan! Lalu lemparkan ke bulan!”
- Pertunjukan selesai -
Langganan:
Postingan (Atom)